Program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) yang diselenggarakan oleh Tim Dosen dan Mahasiswa Program Studi Geofisika, Departemen Fisika, Universitas Gadjah Mada, bersama Banyumanik Research Center (BRC), menjadi langkah awal untuk menghadirkan penelitian terapan yang bermanfaat bagi masyarakat. Tahun ini, fokus kegiatan diarahkan pada studi bawah permukaan di Desa Banyumanik, Wonosari, Gunung Kidul—wilayah yang tengah dijajaki sebagai calon desa wisata edukatif.
Sebagai pengelola BRC, Bu Tutik mempunyai perhatian besar terhadap pengembangan potensi Banyumanik sebagai destinasi wisata berbasis pengetahuan. Kolaborasi ini hadir sebagai bentuk dukungan ilmiah untuk mewujudkan visi tersebut.
Tiga metode geofisika digunakan dalam kegiatan ini untuk mendapatkan gambaran menyeluruh mengenai kondisi bawah geologi dan struktur bawah permukaan diantaranya yaitu, VLF, Geolistrik, dan Drone. Data dari metode ketiga ini diproses secara bertahap. Informasi geofisika yang dihasilkan kemudian dikorelasikan dengan model morfologi dari pemetaan drone untuk memperkuat pemahaman terhadap kondisi geologi setempat.

Setelah seluruh data diuraikan, hasil interpretasi geofisika akan dipadukan dengan konsep geologi regional. Integrasi keduanya menghasilkan gambaran tiga dimensi bawah permukaan yang komprehensif—mulai dari arah struktur, stratigrafi, hingga potensi udara tanah.
Output yang direncanakan berupa diorama edukatif, yang menampilkan model bawah permukaan Desa Banyumanik berdasarkan hasil geofisika dan geologi. Diorama ini disiapkan sebagai media informasi yang mudah dipahami, baik untuk masyarakat lokal maupun wisatawan yang berkunjung.
“Rencananya Desa Banyumanik ini akan dijadikan sebagai desa wisata sehingga nantinya akan diberikan output berupa diorama yang memuat informasi mengenai karakteristik bawah permukaan dari sisi geofisika dan geologinya,”— Afif Rakhman, Kepala Laboratorium Prodi Geofisika UGM

Kerja sama antara Geofisika UGM dan Puslitbang Banyumanik tidak hanya menghasilkan data ilmiah, tetapi juga memberikan landasan untuk perencanaan desa wisata yang bernilai edukatif. Harapannya, minat literasi wisatawan terhadap latar belakang tatanan geologi dan kondisi ekonomi masyarakat dapat meningkat. Dengan demikian, mereka dapat memahami alasan mengapa wilayah tersebut mengalami kesulitan dalam memperoleh udara, sehingga tumbuh rasa menghargai dan kesadaran akan pentingnya pemanfaatan udara secara bijaksana.
Penulis : Pamungkas Yuliantoro, S.Si