Mahasiswa Program Studi Geofisika Universitas Gadjah Mada (UGM) baru – baru ini melaksanakan kegiatan Kuliah Lapangan Geologi (KLG) di kawasan Bayat, Klaten, Jawa Tengah. Kegiatan ini berlangsung selama empat hari di lapangan dan dua hari di kampus, bertujuan untuk menyelaraskan teori geofisika dan geologi yang didapat di kelas dengan kondisi langsung di lapangan, khususnya terkait pemetaan geologi mandiri.
Didampingi oleh tim dosen Geofisika dan Dosen Fakultas Teknik program studi Teknik Geologi, rangkaian kegiatan dimulai dengan orientasi medan di sekitar basecamp Gunung Gajah. Pada hari pertama, para peserta langsung dihadapkan pada kedisiplinan tinggi dengan waktu persiapan logistik yang singkat sebelum terjun ke lapangan.

Selama penyusuran di tujuh titik pengamatan (STA), peserta diajak untuk mengidentifikasikan berbagai jenis batuan dan fenomena geologi. Salah satu temuan yang penting di hari pertama adalah identifikasi pelapukan batuan beku di area perkebunan warga yang menyerupai tanah biasa, serta pengamatan singkapan batugamping berlapis di perbukitan Gunung Temas.
Untuk menguatkan pemahaman teknis, kegiatan malam hari diisi dengan pembekalan materi pemetaan oleh dosen pembimbing serta diskusi kelompok untuk penentuan jalur pemetaan yang efektif.

Puncak kegiatan KLG berlangsung pada sesi pemetaan mandiri pada hari kedua sampai hari keempat. Dalam sesi ini, para peserta disebar ke berbagai lokasi pemetaan (kavling), termasuk area Jiwo Barat dan sekitar Gunung Tugu. Fokus utama pemetaan adalah mengidentifikasi variasi litologi dan struktur geologi yang kompleks di kawasan Bayat.
Didampingi oleh tim asisten dan dosen pembimbing, para mahasiswa berhasil mengamati fenomena geologi yang signifikan, seperti kontak stratigrafi antara batuan dasar metamord (filit mika) dan satuan batuan beku. Selain itu, mereka juga mengamati batuan sedimen berupa batugamping nummulites hingga batugamping berlapis.

Tantangan analisis geologi semakin terasa saat peserta melakukan observasi struktur di area puncak perbukitan. Beberapa singkapan menunjukkan arah perlapisan yang acak (chaotic) meskipun berada pada litologi yang sama. Melalui pengamatan intensif di lapangan, para mahasiswa menyimpulkan fenomena tersebut sebagai damage zone atau zona hancuran, yang menjadi bukti nyata adanya aktivitas sesar (patahan) yang memengaruhi area tersebut.
Kegiatan KLG tidak hanya menuntut ketahanan fisik dalam menghadapi kontur perbukitan yang rapat, tetapi juga ketajaman analisis. Setiap malam, mahasiswa diwajibkan menyusun laporan harian, membuat penampang lintasan, dan memperbarui peta geologi sementara.
Rangkaian KLG ditutup pada hari keempat dengan agenda field checking. Dalam sesi ini, dosen pembimbing dan asisten melakukan verifikasi langsung terhadap data yang diambil mahasiswa, termasuk pengukuran arah jurus dan kemiringan (strike/dip) batuan. Hal ini dilakukan untuk memastikan akurasi data sebelum dipresentasikan dalam bentuk poster ilmiah.
Pengalaman meneliti singkapan secara langsung diharapkan dapat memperkuat kompetensi mahasiswa. Melalui kegiatan kuliah lapangan ini, pemahaman pemetaan geologi kelak akan mencetak calon geophysicist yang andal. Penguasaan skill lapangan ini pada akhirnya akan sangat berguna untuk mempertajam wawasan mereka dalam menginterpretasi data geofisika.