Program Studi Geofisika Fakultas MIPA Universitas Gadjah Mada menjadi tuan rumah penyelenggaraan Foresighting Geophysics & Innovation Day 2025 pada 11–12 November 2025. Kegiatan yang diinisiasi oleh Forum Penyelenggara Pendidikan Geofisika Indonesia (FPPGI) bekerja sama dengan Himpunan Ahli Geofisika Indonesia (HAGI) ini menjadi forum strategis untuk menyelaraskan kurikulum geofisika dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan kebutuhan industri masa depan.
Acara dibuka secara resmi oleh Dekan FMIPA UGM, Kuwat Triyana, dan turut dihadiri oleh Presiden HAGI, Dedy Yusmen, beserta akademisi dan praktisi dari berbagai institusi. Dalam berbagai hal, Dekan FMIPA menyiarkan pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi, industri, dan organisasi profesi untuk memperkuat ekosistem pendidikan geofisika di Indonesia.

Pada sesi utama, narasumber dari industri, I Gusti Ngurah Beni Setiawan dan Oddy A. Pranidhana , memaparkan kebutuhan kompetensi baru bagi lulusan geofisika. Keduanya menekankan bahwa industri saat ini membutuhkan “ Hybrid Geophysicist ” , yaitu lulusan yang mampu menguasai kompetensi teknis geofisika sekaligus keterampilan digital.
Oddy A. Pranidhana menjelaskan bahwa kompetensi tersebut mencakup penguasaan interpretasi seismik, analisis kuantitatif, pemrograman Python, cloud computing , hingga integrasi AI. Penguasaan kemampuan teknis bercerita juga dianggap penting agar hasil analisis dapat disampaikan secara efektif kepada pengambil keputusan.

Sementara itu, I Gusti Ngurah Beni Setiawan menegaskan bahwa perkembangan teknologi tidak dapat menggantikan peran ilmu pengetahuan dasar . Penguatan matematika, fisika, dan geologi yang dinilai tetap esensial untuk membentuk kemampuan berpikir kritis dan mencegah siswa menjadi sekadar perangkat operator.
Diskusi pada sesial sektor yang menyoroti tantangan aktual dalam bidang energi dan kebencanaan. Perwakilan Pertamina dan PT Geodipa Energi menyampaikan bahwa transisi energi menuju 2050 dan pengembangan panas bumi membutuhkan tenaga ahli yang mampu mengelola dan mengintegrasikan data kompleks, termasuk dari metode non-seismik.
Sementara itu, narasumber dari bidang kebencanaan, Daryono dan Andika Bayu , menekankan bahwa upaya mitigasi gempa bumi dan gunung api di Indonesia menuntut kemampuan pengolahan data pemantauan real-time berukuran besar, sehingga kompetensi komputasi menjadi semakin krusial.
Pada sesi akademik, dua narasumber yang mewakili lembaga akreditasi nasional , Muhammad Syukri dan Nurul Hidayat Aprilita , menekankan pentingnya tata kelola akademik yang berorientasi pada keunggulan keilmuan. Keduanya menyampaikan bahwa penjaminan mutu dan akreditasi program studi perlu mengakomodasi kekhasan visi keilmuan masing-masing institusi. Selain kejadian umum melalui skema MBKM, forum ini juga menyoroti perlunya penguatan ilmu pengetahuan dasa r sebagai fondasi utama pembelajaran geofisika.

Penyelenggaraan Foresighting Geophysics & Innovation Day 2025 di UGM menunjukkan komitmen Program Studi Geofisika dalam mendorong transformasi pendidikan geofisika yang adaptif dan berkelanjutan. Melalui sinergi perguruan tinggi, industri, dan lembaga akreditasi, diharapkan lahir lulusan geofisika yang unggul, adaptif, dan siap berkontribusi dalam menghadapi tantangan sektor energi dan kebencanaan di masa mendatang.
Penulis : Dr.rer.nat. Ade Anggraini, S.Si., M.Si.