Edukasi sejak usia dini menjadi kunci membangun generasi tangguh di kawasan rawan bencana melalui pendekatan interaktif dan kolaborasi internasional.
Oleh Tim KBK Geosains Departemen Fisika FMIPA UGM
Upaya meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat terhadap bencana terus dilakukan melalui berbagai pendekatan, salah satunya melalui edukasi sejak usia dini Kelompok Bidang Keahlian (KBK) Geosains Departemen Fisika FMIPA Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali menyelenggarakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) di Desa Dukun, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, pada 25 April 2026.
Kegiatan ini merupakan kelanjutan dari program sebelumnya yang berfokus pada penguatan kapasitas masyarakat di wilayah rawan bencana, khususnya di kawasan yang rentan terhadap erupsi Gunung Merapi. Mengusung tema “Yuk, Menjadi Si Kecil Ahli Bencana”, program ini tidak hanya memberikan edukasi, tetapi juga menghadirkan pengalaman belajar yang menyenangkan dan interaktif bagi anak-anak.
Kolaborasi Internasional untuk Edukasi Generasi Muda
Pelatihan kali ini merupakan hasil kolaborasi antara FMIPA UGM dan NPO Volcano Jepang dengan dukungan pendanaan dari Japan International Cooperation Agency (JICA). Selain itu, kegiatan ini juga melibatkan berbagai pemangku kepentingan, antara lain Pemerintah Desa Dukun, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Magelang, Dinas Pendidikan Kabupaten Magelang, Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM), serta kelompok masyarakat Barisan Masyarakat Siaga Bencana (BIMAGANA).

Sasaran utama kegiatan ini adalah 60 siswa kelas 5 dari SDN Dukun 1, SDN Dukun 2, SDN Dukun 3, SDN Dukun 4, dan MI Ma’arif. Pemilihan kelompok usia ini dilandasi oleh pentingnya menanamkan pemahaman mitigasi bencana sejak dini sebagai bagian dari upaya membangun masyarakat yang tangguh dan adaptif terhadap risiko bencana.
Kegiatan diawali dengan sambutan dari Kepala Desa Dukun, Tanto Heryanto, yang menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya program edukasi kebencanaan bagi siswa di wilayahnya. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya kesiapsiagaan bencana sejak dini, mengingat Desa Dukun merupakan salah satu wilayah yang rawan terhadap erupsi Gunung Merapi. “Anak-anak adalah generasi penerus yang perlu dibekali pemahaman sejak dini agar mampu menghadapi potensi bencana di masa depan,” ujarnya.
Pembelajaran Interaktif Berbasis Visual
Pada sesi awal, Koordinator KBK Geosains, Theodorus Permana, menyampaikan materi terkait pengenalan jenis-jenis bencana, potensi risiko, serta langkah-langkah kesiapsiagaan dalam menghadapi situasi darurat. Materi disampaikan secara interaktif melalui animasi dan video, termasuk dokumentasi aktivitas Gunung Merapi, sehingga siswa dapat memahami konteks bencana secara lebih nyata dan mudah dipahami.

Selanjutnya, pelatihan dilanjutkan dengan sesi yang diisi oleh Kenji Niihori dari NPO Volcano Jepang. Dalam sesi ini, peserta diperkenalkan pada pendekatan kesiapsiagaan bencana yang diterapkan di Jepang. Melalui media visual yang menarik, siswa diajak memahami bagaimana masyarakat Jepang membangun budaya siaga bencana sejak usia dini.

Metode Kreatif: Sesi Onomatopoeia
Suasana pembelajaran semakin hidup melalui sesi onomatopoeia yang dipandu oleh Makoto Konno dari NPO Volcano Jepang. Dalam sesi ini, siswa diajak mengenali tanda-tanda bencana melalui pendekatan suara yang dikemas secara kreatif dan partisipatif. Metode ini tidak hanya menarik, tetapi juga membantu siswa memahami sinyal-sinyal alam dengan cara yang lebih intuitif.

Untuk mengukur efektivitas kegiatan, dilakukan pre-test dan post-test kepada peserta. Hasilnya menunjukkan adanya peningkatan nilai rata-rata dari 8,6 pada pre-test menjadi 9,1 pada post-test, dengan nilai N-Gain sebesar 0,3 yang termasuk dalam kategori sedang. Hal ini menunjukkan bahwa pendekatan edukasi yang digunakan mampu meningkatkan pemahaman siswa terhadap mitigasi bencana.
Penutup dan Harapan Ke Depan
Kegiatan ditutup dengan penyampaian kesimpulan singkat sebagai take home message bagi peserta, dilanjutkan dengan pembagian karinto –camilan tradisional khas Jepang- sebagai bentuk pengenalan budaya, serta penyerahan sertifikat kepada seluruh peserta. Selain menjadi simbol partisipasi, kegiatan ini diharapkan dapat meninggalkan kesan mendalam bagi siswa untuk selalu waspada dan siap menghadapi bencana.


Melalui program ini, UGM bersama mitra berharap dapat menumbuhkan generasi muda yang tidak hanya sadar, tetapi juga tanggap dan siap menghadapi bencana. Selain itu, kegiatan ini diharapkan mampu mendorong terbentuknya budaya kesiapsiagaan yang berkelanjutan di masyarakat, khususnya di wilayah rawan bencana seperti lereng Gunung Merapi.



Penulis: Ade Anggraini dan Luna Triana